Kita berdua berbaring bersebelahan menatap langit-langit kamar yang telah usang. Cahaya redup dari sudut kamar membuat wajahmu masih bisa kulihat jelas. Simfoni kedamaian terdengar di balik kaca jendela; hujan. Aku biarkan tirai-tirai itu terbuka. Mengijinkan embun-embun pada kaca menemani kita hingga Bulan mengucapkan selamat tinggal pada langit malam.
Kau menggenggam tangan kiriku, meletakkannya di atas dada bidangmu. Bukan lagi langit-langit kamar yang aku lihat, kini wajahmu yang menjadi pusat perhatianku. Aku memperhatikan garis-garis wajahmu, menyimpannya dengan rapi pada deretan memori indah di prefrontal pada bagian otak ku. Tanpa kusadari sedari tadi aku tersenyum.
Aku mulai meletakkan jari tanganku di wajahmu. Seperti menunjuk rasi bintang pada langit malam, jari ku mulai menari menelusuri setiap garis wajah--dari dahi hingga ke dagu, aku melakukannya berulang kali.
Aku mengecupmu lalu kembali memperhatikan langit-langit kamar. Pikiranku menerawang. Hatiku tak lagi tenang. Aku sang empu nya pun tak lagi mengerti apa yang ia rasakan. Aku mencoba memahami hati ku sendiri, menelaah dan mencari tahu apa yang sebenarnya ia risaukan.
Tak lama aku sadari, ternyata hatiku takut kehilangan sosokmu.
(d.)
------------------
181025
11:25 pm
0 comments