![]() |
| Artwork: Hotel Nude - Paul Oxborough |
Mobil-mobil tetap melaju kencang menembus hujan; sedangkan para pengendara sepeda motor menepi di halte-halte, di bawah tenda biru pedagang kaki lima, atau di minimarket terdekat agar terhindar dari basah kuyup.
Di sebuah bilik gedung pencakar langit, aku menemukan diriku terlentang dengan kain yang helai demi helai tersingkap. Sebuah ranjang mewah dan temaram ruangan menjadi saksi bagaimana dahsyatnya pertempuran kali ini. Lelaki asing itu berada di atas ku—memegang kendali—dengan tubuh penuh peluh dan nafas yang terengah-engah, ia melolong, meraung, memasuki dan menciumi tubuhku tanpa ampun. Namun hujan seolah tidak peduli dan tetap menjatuhkan diri pada aspal jalanan ibu kota.
Bagiku, malam selalu menjelma menjadi jubah setan yang hitam dan tebal. Dimana mentari sengaja untuk ditunda kedatangannya dan kepak burung gagak menyebarkan kemuramannya. Lonceng dan kidung natal dari gereja di sebelah hotel bergema membuyarkan lamunanku. Lelaki asing itu sudah pergi sedari tadi, meninggalkanku dengan sejumlah uang.
Aku bergegas ke kamar mandi dan melihat seseorang yang menyerupaiku di dalam cermin. Wajahnya kusut masai. Matanya begitu sayu penuh derita. Kasihan sekali perempuan nahas ini, pergi mengadu nasib ke tanah rantau malah terjebak di lingkaran yang tak berujung pangkal. Gemuruh dada yang selama ini aku pendam kian rincak. Rasa sakit dan malu yang aku rasa tidak pernah bisa terukur seberapa hasta. Pipiku menghangat, air mata mengalir dengan deras.
Dalam sisa kerak-kerak bir yang ditenggak, aku menuntaskan tangisku. Lalu membersihkan diri dan bersiap melayani pelanggan selanjutnya.
—11:44 pm / della amelia



