Tertawalah Sebelum Tertawa Itu Dilarang

By Della Amelia - Desember 09, 2018

Like I said in my previous post, Indonesia menjadi negara yang sensitif terhadap hal-hal yang berbau agama. Sehingga udah cukup banyak orang yang dilaporkan dengan tuduhan penistaan agama; mulai dari orang biasa sampai tokoh masyarakat. As far as I know, ini beberapa orang yang dilaporkan (bahkan sebagian sudah dijatuhi putusan hakim) dengan tuduhan penistaan agama:

  • ibu Meiliana yang protes ke mesjid dan minta suara azan dikecilkan;
  • ibu Sukmawati Soekarno Putri karena puisinya yang berjudul “Ibu Indonesia”;
  • pak Ganjar Pranowo karena puisi “kau ini bagaimana atau aku harus bagaimana”;
  • pak Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang dianggap menistakan surat Al-Maidah ayat 51;
  • Joshua yang dianggap menistakan Islam pada salah satu stand up comedy nya;
  • lalu ada komika kita tercinta, Tretan Muslim dan Coki Pardede, dlsb.
Rasanya terlalu panjang dan mungkin akan kayak koran kalau semua kasus di atas kita bahas semua di sini. Kalian bisa cari kronologi kejadian kasus-kasus di atas di mana pun; google, youtube, twitter, atau platform media sosial lainnya. Jadi sekarang saya cuman pengen bahas kasus Tretan Muslim dan Coki Pardede yang dilaporkan melakukan penistaan agama.


Muslim dan Coki adalah seorang komika yang tergabung di channel youtube Majelis Lucu Indonesia. Di sini biasanya mereka membuat sebuah video debat kusir, yang mengkritik/mengomentari isu-isu terhangat. Mereka dilaporkan karena membuat sebuah video “memasak daging babi dicampur dengan kurma”. Setelah video ini diunggah di channel youtube Tretan Muslim, mereka mendapat banyak sekali komentar-komentar negatif bahkan persekusi.


Tretan Muslim dan Coki Pardede pun menyadari akan kesalahan mereka. Mereka meminta maaf karena telah membuat banyak masyarakat menjadi multitafsir akan video mereka. Mereka pun menjelaskan maksud dari video yang mereka buat. Di sini Muslim dan Coki menekankan toleransi yang tinggi antar umat beragama; seperti ketika Coki tertawa saat Muslim mengatakan “kafir” pada Coki dan “babi – neraka, neraka, neraka”. Coki Pardede beragama non Islam, dan dia menanggapi Muslim dengan tertawa. Karena Coki menghargai kepercayaan Muslim soal babi dan neraka juga ia tak ambil pusing soal Muslim yang menganggap Coki seorang kafir.

Namun tetap saja, Muslim dan Coki mendapat persekusi yang semakin hari kian parah. Mereka diancam untuk dibunuh, dipenggal, dan lain-lain. Orang yang melakukan persekusi pun di dominasi oleh orang-orang yang mengaku dirinya sebagai orang Islam yang beriman. Islam adalah agama rahmatan lil ‘alamin, namun masih banyak sekali orang-orang Islam fanatik yang salah tafsir akan Al-Qur’an dan hadits, sehingga mereka menjadikan Islam seolah-olah agama yang pragmatis.

Konten yang Muslim dan Coki buat pun bukan hal yang salah. Karena komedi bukan hanya sekadar joget-joget di atas panggung, saling pukul menggunakan styrofoam, atau mengumbar aib satu sama lain. Di bangku sekolah pun dulu kita mengenal anekdot dan sarkasme. Dan tujuan adanya stand up comedy pun adalah untuk membahas hal-hal yang tabu untuk dibicarakan. Kalau saja para netijen dan golongan masyarakat Islam fanatik mau melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda, mungkin mereka akan berterima kasih atas video Muslim dan Coki yang menekankan toleransi antar umat beragama. Jika segala hal disebut sebagai penistaan agama, maka apa yang harus dijadikan sebagai bahan pembicaran atau bahan bercandaan? Maka dari itu, tertawalah sebelum tertawa itu dilarang.


Masalah di Indonesia tak hanya sekadar agama, masih banyak hal-hal lain yang lebih urgent daripada soal penistaan agama. Jika video “memasak babi dicampur dengan kurma” disebut sebagai penistaan agama, maka bagaimana dengan para koruptor yang telah melakukan sumpah janji di bawah kitab suci namun masih saja korupsi; bagaimana dengan kejadian bom gereja di Surabaya; bagaimana dengan biksu di Tangerang yang diusir dari desanya sendiri hanya karena melakukan “pengajian” di rumahnya?

Semboyan “Bhinneka Tunggal Ika” rasanya belum benar-benar melekat pada Warga Negara Indonesia karena masih minimnya toleransi antar umat beragama. Hidup rukun itu enak, lho. Daripada sibuk menuduh dan mendiskriminasi satu sama lain, mengapa kita  tidak saling menghargai? Ayo, kita belajar menjadi masyarakat yang open minded dan tidak sumbu pendek. Ayo, kita belajar menjadi masyarakat yang menasihati tanpa menghakimi.

-
Regards,
(d.)

ditulis: Desember 9, 2018
pukul: 11, menit ke-4

  • Share:

You Might Also Like

0 comments