Like I said in my previous post, Indonesia menjadi negara
yang sensitif terhadap hal-hal yang berbau agama. Sehingga udah cukup banyak
orang yang dilaporkan dengan tuduhan penistaan agama; mulai dari orang biasa
sampai tokoh masyarakat. As far as I know,
ini beberapa orang yang dilaporkan (bahkan sebagian sudah dijatuhi putusan
hakim) dengan tuduhan penistaan agama:
- ibu Meiliana yang protes ke mesjid dan minta suara azan dikecilkan;
- ibu Sukmawati Soekarno Putri karena puisinya yang berjudul “Ibu Indonesia”;
- pak Ganjar Pranowo karena puisi “kau ini bagaimana atau aku harus bagaimana”;
- pak Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang dianggap menistakan surat Al-Maidah ayat 51;
- Joshua yang dianggap menistakan Islam pada salah satu stand up comedy nya;
- lalu ada komika kita tercinta, Tretan Muslim dan Coki Pardede, dlsb.
Rasanya terlalu panjang dan
mungkin akan kayak koran kalau semua kasus di atas kita bahas semua di sini. Kalian
bisa cari kronologi kejadian kasus-kasus di atas di mana pun; google, youtube, twitter, atau platform
media sosial lainnya. Jadi sekarang saya cuman pengen bahas kasus Tretan Muslim
dan Coki Pardede yang dilaporkan melakukan penistaan agama.
Muslim dan Coki adalah seorang komika yang tergabung di channel youtube Majelis Lucu Indonesia. Di sini biasanya mereka membuat sebuah video debat kusir, yang mengkritik/mengomentari isu-isu terhangat. Mereka dilaporkan karena membuat sebuah video “memasak daging babi dicampur dengan kurma”. Setelah video ini diunggah di channel youtube Tretan Muslim, mereka mendapat banyak sekali komentar-komentar negatif bahkan persekusi.
Tretan Muslim dan Coki Pardede
pun menyadari akan kesalahan mereka. Mereka meminta maaf karena telah membuat
banyak masyarakat menjadi multitafsir akan video mereka. Mereka pun menjelaskan
maksud dari video yang mereka buat. Di sini Muslim dan Coki menekankan
toleransi yang tinggi antar umat beragama; seperti ketika Coki tertawa saat
Muslim mengatakan “kafir” pada Coki dan “babi – neraka, neraka, neraka”. Coki
Pardede beragama non Islam, dan dia menanggapi Muslim dengan tertawa. Karena Coki
menghargai kepercayaan Muslim soal babi dan neraka juga ia tak ambil pusing
soal Muslim yang menganggap Coki seorang kafir.
Namun tetap saja, Muslim
dan Coki mendapat persekusi yang semakin hari kian parah. Mereka diancam untuk
dibunuh, dipenggal, dan lain-lain. Orang yang melakukan persekusi pun di
dominasi oleh orang-orang yang mengaku dirinya sebagai orang Islam yang beriman.
Islam adalah agama rahmatan lil ‘alamin,
namun masih banyak sekali orang-orang Islam fanatik yang salah tafsir akan
Al-Qur’an dan hadits, sehingga mereka menjadikan Islam seolah-olah agama yang
pragmatis.
Konten yang Muslim dan Coki
buat pun bukan hal yang salah. Karena komedi bukan hanya sekadar joget-joget di
atas panggung, saling pukul menggunakan styrofoam,
atau mengumbar aib satu sama lain. Di bangku sekolah pun dulu kita mengenal
anekdot dan sarkasme. Dan tujuan adanya stand
up comedy pun adalah untuk membahas hal-hal yang tabu untuk dibicarakan. Kalau
saja para netijen dan golongan masyarakat Islam fanatik mau melihat sesuatu
dari sudut pandang yang berbeda, mungkin mereka akan berterima kasih atas video
Muslim dan Coki yang menekankan toleransi antar umat beragama. Jika segala hal disebut
sebagai penistaan agama, maka apa yang harus dijadikan sebagai bahan pembicaran
atau bahan bercandaan? Maka dari itu, tertawalah sebelum tertawa itu dilarang.
Semboyan “Bhinneka Tunggal Ika” rasanya belum benar-benar
melekat pada Warga Negara Indonesia karena masih minimnya toleransi antar umat
beragama. Hidup rukun itu enak, lho. Daripada
sibuk menuduh dan mendiskriminasi satu sama lain, mengapa kita tidak saling menghargai? Ayo, kita belajar
menjadi masyarakat yang open minded dan
tidak sumbu pendek. Ayo, kita belajar menjadi masyarakat yang menasihati tanpa
menghakimi.
-
Regards,
(d.)
Regards,
(d.)
ditulis: Desember 9, 2018
pukul: 11, menit ke-4


0 comments