“masalah yang mengeruhperasaan yang rapuhini belum separuhnya.biasa saja,kamu tak apa.”Baskara Putra / Hindia
Bila diibaratkan; hidup adalah semesta, kita adalah sebongkah batu
karang, dan segala cobaan yang ada adalah gulungan ombak.
Dalam hitungan menit gulungan ombak datang silih berganti; menerjang
bongkahan batu karang dan membuatnya terkikis. Begitupun hidup; beban yang semesta
berikan akan terus bertambah—tiada henti—terkecuali raga sudah tak bernyawa
dan kita telah benar-benar mati.
Pada beberapa raga, sering kali konsep hidup hanya sebatas hitam dan
putih. Lalu pada akhirnya tujuan hidup hanya untuk ‘bahagia’. Seolah-olah
pikiran memaksa untuk menghiraukan banyaknya abu-abu dan menolak berbagai
perasaan selain ‘bahagia’.
Hidup dan setiap raga yang menjalani kehidupan memiliki ceritanya masing-masing.
Entah itu kejadian yang manis ataupun traumatis; keduanya harus diterima,
dirasakan, dan dilalui. Terlebih, banyaknya pelajaran hidup lahir dari
kejadian-kejadian tidak menyenangkan.
Akhir-akhir ini,—mereka—; raga yang berisi jiwa penuh luka dan tinjuan
babak belur memercayakan beberapa potong kisah menyakitkan—yang membentuk
pribadi mereka saat ini—padaku. Sedih, sakit, kecewa, patah, dan hilang arah
tersirat dalam gemetar suara yang mereka keluarkan ketika bercerita.
Ternyata, begitulah cara kerjanya: perbanyak mendengar dan berbicara hanya
ketika dibutuhkan. Kita tak perlu mempunyai luka yang sama untuk mendapat
pelajaran hidup yang serupa.
***
Bagi raga dengan jiwa penuh luka:
bertahanlah, bertahanlah, bertahanlah.
Dunia membutuhkanmu,
aku membutuhkanmu.
— (d.)
190330
20:15 pm

0 comments