—hidup.

By Della Amelia - Maret 30, 2019


“masalah yang mengeruh
perasaan yang rapuh
ini belum separuhnya.
biasa saja,
kamu tak apa.”
 Baskara Putra / Hindia



Bila diibaratkan; hidup adalah semesta, kita adalah sebongkah batu karang, dan segala cobaan yang ada adalah gulungan ombak. 

Dalam hitungan menit gulungan ombak datang silih berganti; menerjang bongkahan batu karang dan membuatnya terkikis. Begitupun hidup; beban yang semesta berikan akan terus bertambah—tiada henti—terkecuali raga sudah tak bernyawa dan kita telah benar-benar mati.

Pada beberapa raga, sering kali konsep hidup hanya sebatas hitam dan putih. Lalu pada akhirnya tujuan hidup hanya untuk ‘bahagia’. Seolah-olah pikiran memaksa untuk menghiraukan banyaknya abu-abu dan menolak berbagai perasaan selain ‘bahagia’.

Hidup dan setiap raga yang menjalani kehidupan memiliki ceritanya masing-masing. Entah itu kejadian yang manis ataupun traumatis; keduanya harus diterima, dirasakan, dan dilalui. Terlebih, banyaknya pelajaran hidup lahir dari kejadian-kejadian tidak menyenangkan.

Akhir-akhir ini,—mereka—; raga yang berisi jiwa penuh luka dan tinjuan babak belur memercayakan beberapa potong kisah menyakitkan—yang membentuk pribadi mereka saat ini—padaku. Sedih, sakit, kecewa, patah, dan hilang arah tersirat dalam gemetar suara yang mereka keluarkan ketika bercerita. 

Ternyata, begitulah cara kerjanya: perbanyak mendengar dan berbicara hanya ketika dibutuhkan. Kita tak perlu mempunyai luka yang sama untuk mendapat pelajaran hidup yang serupa. 


***


Bagi raga dengan jiwa penuh luka:

bertahanlah, bertahanlah, bertahanlah.

Dunia membutuhkanmu,

aku membutuhkanmu.

 — (d.)

190330
20:15 pm

  • Share:

You Might Also Like

0 comments