“yang patah tumbuh, yang hilang berganti
yang hancur lebur akan terobati
yang sia-sia akan jadi makna
yang terus berulang suatu saat henti
yang pernah jatuh kan berdiri lagi
yang patah tumbuh, yang hilang berganti”
Jika setiap tahun dalam hidup kita diwakili oleh satu lagu, rasanya, ini
lagu yang tepat untuk tahun 2018 di hidup saya. Oleh lagu ini, saya diajak
untuk membuka buku-buku usang dan mengenang kejadian-kejadian yang tertulis di
dalamnya. Pikiran saya dibawa kembali pada masa-masa dimana saya jatuh, masa
dimana kepercayaan mulai runtuh dan harapan mulai luruh, masa dimana saya mulai
mengalami banyak kehilangan, masa dimana diri tak memercayai adanya titik
terang pada sebuah kegagalan.
Setiap individu memiliki tingkat kesulitan yang relatif ketika menghadapi
sebuah fase dalam kehidupan. Dan bagi saya, fase yang dihadapi tahun ini bisa
dibilang sebuah fase tersulit setelah fase dimana orang tua saya memutuskan
untuk berpisah. Namun saya yakin, cepat atau lambat setiap individu pasti akan
melalui segala fase yang mereka hadapi, sesulit apapun fase tersebut.
Seperti ulat yang bermetamorfosis menjadi kupu-kupu, ia harus menjadi
kepompong terlebih dahulu. Begitupun dengan fase; fase tersulit akan berubah menjadi
fase terindah. Namun, untuk memasuki fase terindah tidaklah mudah, karena untuk
mencapai fase ini biasanya kita harus melewati suatu fase dimana otak dan hati tak lagi akur,
diri menjadi melankolis, dan berbagai perasaan yang tidak karuan.
Setelah berhasil melalui fase-fase tersebut sampailah kita di fase
terindah; dimana hati dan diri mampu melepaskan, mengikhlaskan, lalu memaafkan.
Lirik dalam lagu “yang patah tumbuh, yang hilang berganti” ini semacam magic words buat saya. Lagu ini memberi
saya harapan; bahwa jalan gelap yang sedang dilewati akan menuntun pada gemilau
cahaya di kemudian hari, awan mendung dan hujan badai pun akan hilang terganti
oleh matahari. Lalu setelahnya penawar terbaik akan dikirim Tuhan sebagai
balasan dari segala kesialan di hari yang lalu.
Pada awalnya memang terasa sulit. Namun, waktu akan membantu mengobati
luka-luka dan tinjuan babak belur dari kenyataan itu. Tenanglah. Fase terindah
telah tiba. Kini hati terasa lebih lega dan ringan karena telah melepas, diri
pun tidak lagi harus menarik nafas dengan berat dan sakit. Tersenyumlah dan berbahagialah.
07:14 pm

0 comments